Muna Barat, LintasSejahteraNews.Com — Mahasiswa kembali tampil sebagai alarm keras—bahkan kini berubah menjadi “alarm darurat”—bagi Pemerintah Kabupaten Muna Barat atas bobroknya infrastruktur jalan di Kecamatan Maginti. Dion, mahasiswa asal Pulau Maginti, secara terbuka mengecam kondisi ruas jalan dari Pajala hingga Abadi Jaya yang dibiarkan rusak parah, seolah tidak memiliki nilai penting bagi pemerintah daerah, padahal jalan tersebut merupakan akses vital para kepala desa dari wilayah kepulauan menuju pusat pemerintahan kabupaten.
Dalam pernyataannya, Dion menegaskan bahwa kerusakan jalan ini bukan lagi soal kelalaian biasa, melainkan bentuk nyata dari kegagalan pemerintah dalam menjalankan tanggung jawab dasarnya. Jalan yang seharusnya menjadi urat nadi pelayanan publik justru berubah menjadi hambatan utama, memperlambat roda pemerintahan desa dan mengorbankan kepentingan masyarakat luas.
Lebih keras lagi, Dion menyebut slogan kebanggaan daerah “Liwu Mokesa” kini tak lebih dari sekadar ilusi yang dipaksakan hidup di tengah kenyataan pahit. Ia menilai pemerintah daerah sedang mempertontonkan paradoks: berbicara tentang keindahan, namun membiarkan kerusakan menjadi wajah nyata di lapangan. “Ini bukan lagi ironi, ini adalah kebohongan yang dipelihara,” tegasnya.
Dion juga menyoroti sikap abai pemerintah yang terus berulang. Ia mengungkapkan bahwa ini merupakan kritik keduanya yang secara resmi dirilis, namun tetap tidak mendapatkan respons maupun langkah konkret dari pihak terkait. Kondisi ini, menurutnya, menunjukkan adanya pembiaran yang disengaja terhadap persoalan mendasar yang menyangkut hajat hidup masyarakat.
“Kalau sampai mahasiswa harus berulang kali berteriak untuk hal yang sangat mendasar seperti jalan, maka ini bukan sekadar kelambanan, ini adalah kegagalan total dalam membaca kebutuhan rakyat,” ujar Dion dengan nada geram.
Ia menegaskan bahwa mahasiswa tidak akan berhenti bersuara, karena diam berarti membiarkan ketidakadilan terus berlangsung. Dion juga memperingatkan bahwa jika kondisi ini terus diabaikan, maka kepercayaan publik terhadap pemerintah daerah akan semakin runtuh.
Rilisan ini menjadi tamparan keras sekaligus peringatan terbuka bagi Pemerintah Kabupaten Muna Barat agar segera bertindak nyata, bukan sekadar bersembunyi di balik slogan dan janji. Sebab bagi masyarakat Maginti, yang dibutuhkan bukan kata-kata indah, melainkan jalan yang layak untuk dilalui.
“Jangan lagi menjual mimpi ‘Liwu Mokesa’ jika realitasnya adalah jalan hancur. Rakyat tidak butuh slogan, rakyat butuh bukti,” tutup Dion dengan tegas.















